Nama Shift Up kini semakin dikenal oleh para gamer berkat keberhasilan Stellar Blade dan Goddess of Victory: NIKKE. Namun, pencapaian tersebut ternyata tidak diraih dengan perjalanan yang mudah. Di balik visual memukau dan sambutan positif terhadap gamenya, studio asal Korea Selatan ini sempat berada dalam situasi finansial yang sangat terbatas.
Dalam wawancara eksklusif bersama INVEN, CEO Shift Up Hyung-Tae Kim menceritakan masa penuh tekanan yang dilalui timnya ketika mengembangkan Stellar Blade. Kisah tersebut menunjukkan bahwa proyek besar sekalipun dapat berawal dari kondisi yang serba tidak pasti.
Shift Up Sempat Berada di Ujung Keraguan
Hyung-Tae Kim mengungkap bahwa saat proses produksi Stellar Blade berlangsung, Shift Up hanya memiliki kemampuan untuk membiayai gaji karyawan selama sekitar tiga bulan. Kondisi ini tentu memberikan tekanan besar, terutama karena game yang mereka kerjakan membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.
Stellar Blade juga termasuk salah satu proyek AAA dari Korea Selatan yang memiliki skala ambisius. Bagi sebuah studio yang sedang berusaha membangun pijakan lebih kuat, risiko pengembangannya sangat besar. Kim bahkan mengakui bahwa dirinya sempat mempertanyakan apakah keputusan untuk membuat game tersebut benar-benar tepat.
Bagi gamer Indonesia, situasi seperti ini mungkin menjadi pengingat bahwa game yang terlihat siap bersaing di pasar global tidak selalu lahir dari perusahaan dengan kondisi sempurna. Ada proses panjang, pengorbanan, serta ketidakpastian yang sering kali tidak terlihat ketika pemain hanya menikmati hasil akhirnya.
Investor dan Publisher Belum Yakin
Untuk menjaga pengembangan tetap berjalan, Shift Up berusaha mendekati sejumlah investor dan publisher besar. Sayangnya, banyak pihak yang ditemui belum melihat Stellar Blade sebagai proyek yang menjanjikan. Mereka justru menilai game tersebut membawa risiko tinggi bagi perusahaan.
Dalam beberapa pandangan yang diterima Shift Up, ada pihak yang menyarankan agar tim menghentikan proyek tersebut dan beralih ke pekerjaan lain. Penilaian terhadap perusahaan dianggap lebih berharga dibandingkan melanjutkan sebuah game yang belum jelas masa depannya. Sikap itu membuat posisi Shift Up semakin sulit dalam mencari dukungan.
Penolakan berulang tentu memengaruhi keyakinan sang CEO. Keraguan tidak hanya datang dari pihak luar, tetapi juga mulai dirasakan oleh Kim dan timnya sendiri. Mereka harus tetap menyelesaikan proyek besar sambil menghadapi pertanyaan mengenai kemungkinan Stellar Blade gagal di pasaran.
- Shift Up menghadapi keterbatasan dana selama produksi Stellar Blade.
- Sejumlah investor dan publisher menilai proyek tersebut terlalu berisiko.
- Tekanan eksternal turut membuat tim meragukan potensi kesuksesan game.
Dukungan Sony Mengubah Arah Perjalanan
Walaupun sempat kehilangan kepercayaan diri, Shift Up tidak meninggalkan Stellar Blade. Salah satu momen penting terjadi ketika Shuhei Yoshida mencoba versi prototipe game tersebut. Pada saat itu, ia masih menjabat sebagai Presiden Sony Interactive Entertainment dan memberikan banyak apresiasi terhadap karya yang ditunjukkan.
Dukungan dari Sony PlayStation kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan proyek tersebut. Dengan bantuan yang diperoleh, Shift Up akhirnya dapat membawa pengembangan Stellar Blade hingga selesai. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa kesempatan untuk menunjukkan kualitas game bisa menjadi titik balik bagi studio yang sebelumnya diragukan.
Keberhasilan Stellar Blade juga terasa relevan bagi pemain Indonesia. Gamer di Tanah Air kini memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati game dari pengembang Asia yang mampu tampil di panggung global. Sama seperti saat pemain menyiapkan saldo untuk top up game favorit, sebuah studio juga membutuhkan dukungan dan sumber daya agar bisa terus menghadirkan pengalaman bermain yang lebih baik.
Rencana Shift Up Setelah Stellar Blade
Kesuksesan Stellar Blade tidak membuat Shift Up berhenti berambisi. Hyung-Tae Kim menyampaikan bahwa perusahaan masih ingin mengembangkan sejumlah proyek baru. Dua nama yang disebut adalah Stellar Blade: Blood Rain dan proyek misterius bernama Project Spirits.
Detail mengenai kedua proyek tersebut belum dijelaskan secara mendalam dalam catatan wawancara ini. Meski begitu, keberadaan rencana baru tersebut memperlihatkan bahwa Shift Up ingin memanfaatkan pengalaman yang diperoleh dari proyek sebelumnya untuk melangkah lebih jauh.
Kim juga menyadari bahwa timnya masih memiliki berbagai kekurangan. Karena itu, Shift Up akan berusaha meningkatkan kemampuan mereka dalam mengerjakan game-game berikutnya. Bagi pemain, hal ini tentu menjadi alasan untuk menantikan bagaimana studio tersebut mengembangkan ide dan kualitas produksinya di masa depan.
Kesimpulan
Perjalanan Shift Up sebelum Stellar Blade sukses menjadi contoh bahwa proyek besar dapat melewati masa-masa yang sangat rapuh. Keterbatasan dana, penolakan dari investor, hingga keraguan internal sempat membayangi studio tersebut. Namun, kerja keras tim dan dukungan yang datang di waktu penting membuat proyek itu tetap bertahan.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa kesuksesan sebuah game tidak selalu langsung terlihat sejak awal. Bagi gamer Indonesia, perkembangan Shift Up menarik untuk diikuti karena studio tersebut berpotensi menghadirkan lebih banyak karya dengan daya tarik global. Kini, perhatian tentu tertuju pada langkah berikutnya setelah Stellar Blade berhasil membuktikan kualitasnya.